Keluarga merupakan terminal pertama dalam membangun masyarakat. Peranan seorang ayah dalam hal ini sanagat prinsip dan urgen. Ayah adalah ibarat penglima dan pemimpin di tengah-tengah keluarga, dan bahkan dialah yang bertanggung jawab atas kebutuhan materi, pendidikan dan akhlak keluarganya.


Seorang ayah yang sholih seyogyanya menyadari peranannya yang amat penting ini dan  memikul tanggung jawab yang dibebankan di atas pundaknya, yaitu memberikan pendidikan, pengayoman dan bimbingan kepada putra-putrinya. Bahkan lebih dari itu, ia dianjurkan mengetahui cara terbaik untuk menyiapkan mereka agar dapat menghadapi dan memikul beban hidup di masa mendatang.

Dengan demikian, cara seorang ayah mengarahkan berbagai persoalan rumah tangga, mendidik anak, bertingkah laku di hadapan mereka, menunjukkan rsa cinta, kasih sayang, menemani, memperhatikan kepentingan, membantu memecahkan problema, memperbaiki akhlak dan membiasakan mereka percaya pada diri sendiri, sangat berpengaruh terhadap kehidupan, pemberntukan kepribadian, dan bahkan lebih jauh lagi berpengaruh terhadap sikap serta tingkah laku mereka setelah dewasa. Kesuksesan anak dalam menghadapi tantangan hidup sesungguhnya amat tergantung pada kesukesan ayah dalam memainkan perannya.

Oleh karena itu, Islam sangat memberikan perhatian terhadap peranan seorang ayah di tengah keluarganya. Buktinya, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam di samping sebagai Nabi dan Rosul, pemimpin, panglima perang, pendiri dan kepala Negara, da’i, dan lain sebagainya beliau juga sebagai suami, ayah dan kekek yang memiliki anak dan cucu.

Banyak buku sejarah yang telah bercerita tentang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai seorang ayah, tentang cara beliau mendidik, tentang akhlak dan ajaran-ajarannya dlam membimbing anak.

Muhammad SAW Sang Ayah Sejati 

Kebesaran dan kehebatan putra-putri kaum muslimin pada waktu itu adalah karena adanya contoh dan keteladanan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai seorang ayah. Mereka mendapatkannya secara sempurna. Hal itulah yang membuat mereka mampu menerobos belahan dunia timur dan barat sebagai dai agama dan ilmu pengetahuan. Betapa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam benar-benar seorang ayah dan pendidik.

Tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah seorang pendidik teladan. Hadits-hadits beliau merupakan pedoman dasar yang utama bagi kita setelah Al Quran di dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukannya. Dan bahkan menyangkut segala persoalan hidup, baik pada saat kita kanak-kanak atau saat kita dewasa.

Dari celah-celah lingkungan rumah beliau yang mulia Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah memberikan suri tauladan kepada putra-putri kaum muslimin tentang dasar-dasar pendidikan dan perlakuan beliau terhadap putra dan putri kaum muslimin.

Syaikh Mutawally Asy Sya’rowi dalam bukunya, ‘Sistem Pendidikan dalam Islam’ menyatakan, “Rosululloh datang membawa dasar-dasar system pendidikan, yaitu : bagaimana seorang pendidik secara baik mencari jalan terdekat menuju sasaran kebenaran dari berbagai persoalan yang dihadapi yang kadang-kadang sulit dipecahkan oleh akal dan membingungkan. Namun, kelembutan, kesiapan dan keluasan pengetahuan seorang guru akan membantu utnuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui jalan terdekat dan memuaskan.”

Dr. Sa’id Ismail Ali dalam bukunya ‘Penggambaran Nabi Tentang Kepribadian yang Baik’ menyatakan, “Suatu keluarga itu baik bukan karena asala muasalnya, melainkan kerena individu-individu yang menjadi anggota keluarga tersebut. Seperti halnya juga kepribadian seseorang, sejak awal pembentukannya amat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia berada. Oleh karena itu, disinilah Rosululloh kita lihat sangat menekankan dan memberi petunjuk untuk dapat menciptakan suasana kekeluargaan yang sehat, Islami sehingga dapat menjadi yang efektif bagi pembinaan generasi.”

Tanggung Jawab Pendidikan

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam membebankan tanggungjawab pendidikan anak itu sepenuhnya di pundak orang tua. Dari Ibnu Umar, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam berdabda, “Masing-masing kalian adalah pemimpin. Masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganyadan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya …” (HR Bukhory dan Muslim)

Bahkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah meletakkan kaidah dasar yang intinya adalah bahwa seorang anak itu akan tumbuh dewasa sesuai dengan agama orang tuanya. Kedua orang tuanyalah yang besar pengaruhnya terhadap mereka.

Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiadalah anak yang dilahirkan itu melainkan lahir dengan membawa fitroh. Maka orang tuanya lah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana seekor binatang ternak melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna (tanpa cacat), apakah lantas kamu lihat terhadap cacat pada telinganya?”

Upaya perbaikan terhadap anak dan meluruskan kesalahan, serta membiasakan mereka melakukan kebaikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus menerus. Oleh karena itu Abu Hamid Al Ghozali menyatakan dalam risalahnya, ‘Ayyuhal Walad’ mengumpamakan proses pembinaan terhadap anak itu bagaikan usaha petani mencabuti duri-duri dari tanaman agar tumbuh dengan baik dan sempurna.

Ibnul Qoyyim menyatakan, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dan membiarkannuya begitu saja, berarti ia telah melakuakan keburukan yang teramat keji. Timbulnya kerusakan dalam jiwa anak sering diakibatkan oleh orang tua mereka sendiri. Pendidikan mereka diabaikan. Pengajaran kepada mereka tentang kewajiban dan sunnah-sunnah agama ditinggalkan. Sewaktu kecil mereka telah disia-siakan, wajar ketika dewasa mereka menjadi orang yang tidak berguna baik diri sendiri atau pun orang tua mereka. Akhirnya ada sebagian anak yang mencaci orang tuanya sendiri, “Wahai ayah, sewaktu kecil engkau telah mendurhakai ku, maka kini, aku pun mendurhakaimu. Sejak dilahirkan aku telah engkau sia-siakan, kini akupun menyia-nyiakanmu di usia tua.”

Pendidikan terhadap anak bukanlah hadiah, melainkan hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua. Orang disebut Abror (orang-orang berbakti), karena mereka telah berbuat kebaikan, baik kepada orang tuanya maupun anak-anaknya. Sebagaimana engkau punya hak atas anakmu, begitu pulan anakmu punya hak atas dirimu. Demikian riwayat Bukhory dalam Adabul Mufrod.

Post A Comment: